Rumah Peradaban Arkeologi Perbatasan Natuna: Perlintasan Budaya Dan Niaga

Rumah Peradaban Arkeologi Perbatasan Natuna: Perlintasan Budaya Dan Niaga

Rumah Peradaban Arkeologi Perbatasan Natuna: Perlintasan Budaya Dan Niaga menjadi tema dalam kegiatan Rumah Peradaban di Kabupaten Natuna, Propinsi Kepulauan Riau. Kegiatan ini merupakan wujud pertanggungjawaban instansi Pusat Penelitian Arkeologi Nasional, terhadap pemerintah daerah dan masyarakat umum, baik mahasiswa, pelajar, pendidik, pemerhati budaya maupun masyarakat awam , berkenaan dengan hasil penelitian yang telah dilakukan di beberapa situs Pulau Bunguran Besar, Kabupaten Natuna. Sebagai lembaga pusat data arkeologi, berkewajiban menginformasikan media arkeologi yang diperoleh, sehingga bermanfaat untuk masyarakat terhadap kesadaran jatidiri bangsa melalui bukti-bukti arkeologi dan sejarah, yang diperoleh melalui hasil penelitian. Oleh karena itu, program Rumah Peradaban, dapat dipandang sebagai upaya untuk menghadirkan media arkeologi, baik secara intensifikasi maupun diversivikasi. Rumah Peradaban adalah salah satu cara yang saat ini dianggap tepat untuk mengadabkan masyarakat masa kini tentang masa lalu. Juga sebagai pembelajaran tentang masa lalu untuk masa kini. Melalui Rumah Peradaban, informasi yang disampaikan berupa data material, baik artefak maupun bukan artefak; data tekstual dan foto-foto dalam bentuk: buku pengayakan, banner, dan leaflet, serta kunjungan ke situs penelitian.

Rumah Peradaban Arkeologi Natuna diawali dengan mendisplay hasil penelitian arkeologi Natuna di lobby utama kantor Bupati Kabupaten Natuna, sehingga masyarakat umum dapat melihat sumberdaya budaya Natuna melalui hasil penelitian yang telah dilakukan. Bukti-bukti hasil penelitian, baik tinggalan budaya material maupun tekstual di kemas dalam tampilan nyata dan verbal, yang dipamerkan secara berkesinambungan di ruang utama kantor kabupaten; artefak dan bukan artefak di pamerkan di dalam vitrin, sedangkan data tekstual di sajikan dalam kemasan leaflet, banner, backdrop, dan buku pengayakan. Dari hasil penelitian yang dikemas, menunjukkan dan memperjelas adanya permukiman dan aktivitasnya, sehingga dari bukti arkeologi tersebut memperkuat peran Natuna sebagai wilayah perbatasan, berkaitan dengan jaringan pelayaran dan perniagaan, baik jarak dekat maupun jarak jauh. Juga memberikan bukti tentang kronologi, etnis, dan aktivitasnya, fungsinya tinggalan arkeologi yang berkaitan dengan kubur dan rangka

Kegiatan Rumah Peradaban juga berusaha untuk menyebarluaskan tentang budaya Natuna, dan menjadikan masyarakat paham akan jatidiri bangsa melalui tinggalan budaya yang masih dapat dilestarikan. Sosialisasi ini menambah pengetahuan dan pengertian tentang potensi arkeologi Natuna dan sangat bermanfaat untuk bahan ajar bagi para pengajar. Selama ini tidak diperoleh materi tentang kepurbakalaan dan sejarah Natuna, sehingga pengetahuan yang disampaikan kepada pelajar hanya sebatas sejarah lisan. Oleh karena itu, sosialisasi rumah peradaban ini sangat diapresiasi oleh para pengajar, materi yang diberikan sangat membantu dan mempermudah dalam pengajaran sejarah Natuna dan kaitannya dengan budaya luar Natuna. Keberadaan display sangat membantu pengertian budaya Natuna, oleh karena itu display supaya selalu di rawat dan ditambah data yang diperoleh pada tahun-tahun berikutnya. Memang sebaiknya Rumah Peradaban, selain kerjasama dengan pemda setempat, juga ada bukti yang terus dapat dilihat dan diinformasikan kepada seluruh masyarakat, dimana kegiatan penelitian dilakukan.(Naniek Hkt - Tim RP Natuna 2018)