Rumah Peradaban Kerinci

Rumah Peradaban Kerinci

Kerinci, Jambi - Kerinci merupakan salah satu kabupaten paling barat dan berada di dataran tinggi Pegunungan Bukit Barisan di Provinsi Jambi. Sebuah daerah yang memiliki sejarah dan budaya yang khas terwariskan hingga saat ini di wilayah Provinsi Jambi yaitu daerah Kerinci. Nama Kerinci dikenal dalam percaturan Sejarah Nasional Indonesia melalui temuan keramik Cina dari masa Dinasti Han yang berasal dari abad ke-2 Sebelum Masehi. Di Kerinci juga terdapat tinggalan arkeologi dari masa Prasejarah yang ditemukan di Gua Tiangko Panjang dan Gua Ulu Tiangko. Selain itu, nama Kerinci juga dikenal dengan temuan dua arca Buddha (Padmapani dan Awalokiteswara) yang berdasarkan gaya seninya berasal dari abad ke-8-9 Masehi. Keanekaragaman tinggalan arkeologi di Kerinci semakin terungkap sejak Balai Arkeologi Palembang mengadakan penelitian pada tahun 1994 sampai sekarang. Tinggalan arkeologi tersebut berupa batu-batu silindrik, kubur tempayan, makam-makam puyang, masjid-masjid kuna dan naskah-naskah yang berasal dari kurun waktu masa Prasejarah sampai masuknya pengaruh Islam. Dengan demikian dapat dikatakan, bahwa keanekaragaman budaya masa lalu daerah Kerinci termasuk tinggi.

Dataran Tinggi Jambi pada abad ke-17 Masehi kaya dengan sumber-sumber tertulis yang dikeluarkan oleh Kesultanan Jambi. Suliensyar beranggapan bahwa isi dari salinan naskah Jawi bernomor 148 dan bernomor 169 sampai dengan 175 menunjukkan indikasi adanya suatu proses dalam pembentukan wilayah adat di Utara Kerinci dan juga memuat pernyataan serta sikap penguasa Jambi terhadap konflik wilayah tersebut.

Selain tinggalan dari masa Prasejarah dan Hindu-Buddha, daerah Kerinci juga kaya tinggalan dari masa Islam, yaitu masjid-masjid kuna dan naskah-naskah kuna, yang ditulis dengan menggunakan aksara lokal (aksara Incung) atau aksara Jawi (Arab-Melayu). Naskah-naskah beraksara Incung di Kerinci yang tertua adalah Kitab Undang-Undang Tanjung Tanah. Yang menarik dari naskah ini yaitu ditulis dengan menggunakan dua aksara, yaitu aksara incung dan aksara Sumatra Kuna dari abad yang berasal dari sekitar abad ke-14-15 Masehi. Sementara itu, naskah-naskah yang ditulis dengan aksara Jawi umumnya berupa piagam berasal dari abad ke-18-19 yang dikeluarkan oleh Sultan Jambi. Dengan ditemukannya piagam-piagam dari sultan Jambi menandakan bahwa Kerinci merupakan salah satu daerah protektorat Jambi. Hal ini juga menandai adanya perubahan kebudayaan di Kerinci ke arah budaya yang mendapat pengaruh Islam. Masjid-masjid kuna di Kerinci berasal dari sekitar abad ke-19 dan awal abad ke-20.

Karena banyaknya tinggalan arkeologi yang telah ditemukan dan dikaji di wilayah Kerinci tersebut, maka Balai Arkeologi Sumatra Selatan perlu menyampaikan informasi kepada masyarakat di wilayah Kerinci tentang budaya masa lalu mereka yang belum tentu masyarakat umum mengetahuinya. Proses penyampaian informasi tersebut diberi nama Rumah Peradaban Kerinci yang bertemakan mengenai Kerincimu, Kerinciku, Kerinci Kita. tema tersebut berfilosofi: bagaimana menyatukan pendapat dan pemahaman mengenai Kerinci antara masyarakat lewat budayawan (Kerincimu), penelitian dari para peneliti (Kerinciku), sehingga ditemukan satu pendapat mengenai budaya Kerinci secara umum (Kerinci Kita).

Kegiatan Rumah Peradaban Kerinci ini dalam usaha penyebaran informasi kepada masyarakat dalam bentuk:

  1. Diskusi Terpumpun

Kegiatan diskusi ini melibatkan para pemangku kepentingan, yaitu pemerintah, budayawan, peneliti, akademisi, dan masyarakat. dengan mengundang para narasumber mulai dari Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Jambi, BPCB Jambi, Peneliti, dan Budayawan. Acara diskusi ini menjaring pendapat masyarakat untuk dapat mengungkap keanekaragaman budaya Kerinci dan berusaha untuk memberikan makna tentang pentingnya menggali potensi sejarah dan budaya kerinci untuk memperkuat sektor pariwisata.

  1. Pameran Arkeologi

Acara pameran ini dibuka oleh asisten 3 Kabupaten Kerinci, dan dihadiri oleh para undangan baik dari Kabupaten Kerinci maupun dari Kota Sungai Penuh. Banyak siswa dan siswi baik itu dari SD, SMP, SMA maupun dari umum yang berkunjung. Selain melihat-lihat pameran, panitia menyiapkan games interaktif dan diskusi, hal tersebut dilakukan agar suasana tidak terlalu jenuh dan bosan. Selain itu, pengisian kuesioner dilakukan guna penyempurnaan dimasa-masa yang akan datang.

  1. Poster (Promosi Media) dan Alat Peraga Pendidikan

Poster dan alat peraga pendidikan diberikan kepada dinas-dinas yang terkait (dinas kebudayaan dan pariwisata serta dinas pendidikan), sekolah-sekolah tingkat atas yang ada di wilayah Kabupaten Kerinci dan Kota Sungai Penuh.

  1. Buku Pengayaan (Komik)

Buku pengayaan dalam Rumah Peradaban Kerinci ini berupa sebuah komik yang berceritakan tentang kehidupan masyarakat di wilayah Kerinci dahulu. Komik ini diberikan kepada setiap pengunjung terutama anak-anak SD. Mereka sangat antusias membaca komik tersebut yang menggunakan Bahasa Melayu dialek Kerinci (bahasa yang mereka mudah pahami karena bahasa tersebut masih digunakan dalam kehidupan sehari-hari).

Secara umum Rumah Peradaban ini dinilai cukup berhasil, hal tersebut terlihat dari kuesioner-kuesioner yang disebarkan pada setiap acara. Walaupun jauh dari kata sempurna, persiapan Rumah Peradaban Kerinci ini sudah sangat matang dan kerjasama dengan pemerintah daerahnya pun sudah sangat baik.

Kegiatan Rumah Peradaban Kerinci ini mendukung program pemerintah pusat dalam hal Rumah Peradaban secara umum dengan tema “mengungkap, memaknai dan mencintai”. Dengan diadakannya Rumah Peradaban Kerinci ini, diharapkan masyarakat mengetahui, memaknai dan mencintai kebudayaan mereka sendiri sehingga dapat menumbuhkan rasa bangga akan budaya masyarakat Kerinci dan bisa dimanfaatkan sebagai penguat jati diri bangsa. (Balai Arkeologi Sumatera Selatan)