Rumah Peradaban Sriwijaya

Rumah Peradaban Sriwijaya

Pagi itu, kesenyapan desa Bumi Ayu berganti menjadi suasana semarak dengan kedatangan Bupati Pali dan sejumlah pejabat daerah beserta rombongannya memasuki gerbang percandian Bumi Ayu. Di areal taman sendiri telah berdiri panggung dan didepannya terdapat tenda yang telah dipadati siswa-siswi dan mahasiswa dan tamu undangan lainnya. Panitia penyelenggara kegiatan “Rumah Peradaban”, begitu sibuk menerima dan melayani para tamu undangan. Terpanpang spanduk besar berisi tulisan “Rumah Peradaban Sriwijaya di Bumiayu”.

 Kegiatan Sosialisasi Rumah Peradaban Sriwijaya di Bumiayu dilaksanakan pada hari Rabu, 28 November 2018 atas kerjasama antara Pusat Penelitian Arkeologi Nasional dengan Pemerintah Kabupaten Pali dan Balai Pelestarian Cagar Budaya Jambi. Bertempat di Kawasan Percandian Bumiayu, Kecamatan Tanah Abang, Kabupaten Penukal Abab Lematang Ilir, Sumatera Selatan, dan dihadiri oleh 200 peserta dan undangan yang terdiri dari para pelajar SMA setempat, mahasiswa, komunitas sejarah-budaya, kalangan Disbudpar/Disdik Pemprov Sumsel dan Kabupaten PALI, BPCB Jambi, Balar Sumsel, Museum Balaputradewa, dan Museum Sriwijaya. Kegiatan sosialisasi itu, dibuka secara resmi oleh Bupati Kabupaten PALI, Ir. H. Heri Amalindo, M.M., sesusai memberikan sambutannya --setelah terlebih dahulu dilakukan serangkaian acara seperti tarian selamat datang, menyanyikan lagu Indonesia Raya, pembacaan doa, serta sambutan dari Bpk. Iskandar M. Siregar (Kepala BPCB Jambi) dan Bpk. I Made Geria (Kepala Puslit Arkenas).

 

Menghidupkan Memori Kolektif Kebangsaan

Dalam sambutan kepala pusat penelitian Arkeologi Nasional menekankan bahwa Program prioritas untuk menjadikan arkeologi bermanfaat bagi bangsa adalah melalui pengembangan di dalam “Rumah Peradaban”. Dikatakan, pengembangan karena pada hakekatnya kegiatan pemasyarakatan tinggalan budaya masa lampau dan nilai-nilai arkeologi sudah dilakukan, walaupun masih dalam tahap embrio oleh keterbatasan-keterbatasan sarana. Kegiatan tersebut antara lain berupa pameran dan sarasehan dengan masyarakat di sekitar daerah penelitian. Kini kegiatan itu dirancang konseptual agar lebih memberikan manfaat. Pengembangan Rumah Peradaban ini dimaksudkan pula untuk mendukung program Nawacita pemerintah sekarang, khususnya cita ke-8 (pembangunan karakter bangsa) dan cita ke-9 (pembangunan Rumah Pusat Kebudayaan).

Lebih jauh Kapus Puslit Arkenas menjelaskan, seperti apa sebenarnya Konsep Rumah Peradaban itu? “sederhananya merupakan sarana pendidikan dan pencerdasan bangsa lewat pemasyarakatan hasil penelitian arkeologi”. Dikatakan, Rumah Peradaban menjadi media untuk mempertemukan masyarakat dengan sejarah dan budaya masa lampaunya, memahami nilai-nilai kandungannya. Tujuannya agar masyarakat semakin mencintai peradabannya hingga menumbuhkan semangat kebangsaan dan menjadi sumber inspirasi bagi pengembangan bangsa yang berkepribadian. Mengungkap, memaknai dan mencintai peradaban untuk membentuk insan dan bangsa yang berkarakter. Itulah konsep Rumah Peradaban, konsep yang prosesual mulai dari penelitian hingga pemasyarakatan.

Pusat Penelitian Arkeologi Nasional sebagai sentra himpunan data dan informasi memiliki aset nilai peradaban yang sangat penting bagi masyarakat dalam menghadapi masalah aktual dan globalisasi. Dalam konteks ini konsep Rumah Peradaban berperan dalam menghidupkan memori kolektif kebangsaan. Lebih jelasnya rumah ini bukan sekedar memperagakan warisan budaya, tetapi yang tak kalah penting mengungkap nilai-nilai di balik itu, seperti pemikiran dan perilaku dalam mencapai kemajuan di masa lalu. Jika demikian Rumah Peradaban bicara masa lampau untuk kekinian dan masa datang, oleh sebab itu Rumah Peradaban ini dapat menjadi sumber inspirasi dan kreativitas melalui pemaparan kehidupan masa lalu.

Rumah Peradaban berangkat dari hasil penelitian yang kemudian dielaborasi dan dikemas dengan data kompilasi. Tanpa penelitian, rumah ini akan kosong informasi karena hasil penelitianlah yang senantiasa mengisi dan memutakhirkan pesan-pesan yang disampaikan. Salah satu titik tolak Rumah Peradaban adalah penemuan dan kemajuan penelitian pada situssitus besar dengan mengangkat dan memasyarakatkan potensi arkeologisnya. Model ini secara nyata akan memperlihatkan alur pengelolaan warisan budaya yang konseptual dari penelitian yang bermuara pada pemanfaatan.

Setelah peresmian pembukaan acara, dilakukan pemberian alat peraga (replika burung nuri) dan tukar menukar cinderamata. Burung nuri ini boleh dibilang sebagai ikon budaya Bumiayu. Relief terakota burung nuri banyak ditemukan di bangunan candi-candi Bumiayu. Burung nuri memiliki filosofi sebagai berikut: “Penuh perhatian, menekankan kesetiaan, dan tahu membalas budi, adalah sebuah kebajikan. Ketika sahabat menemui kesulitan, sudah semestinya kita berusaha mengulurkan tangan, memberikan bantuan. Meski bantuan kita tidak seberapa, namun ketulusan dan keikhlasan lebih penting dari besarnya bantuan itu sendiri”.

Kegiatan Rumah Peradaban Sriwijaya di Bumiayu ini menghadirkan narasumber Drs. Bambang Budi Utomo (Puslit Arkenas) yang memaparkan berbagai hasil penelitian tentang Situs Bumiayu, serta Kristanto Januardi, S.S. (BPCB Jambi) yang memapar-kan berbagai upaya pelestarian terhadap Kawasan Percandian Bumiayu yang telah dilakukan selama ini. Sebagai moderator adalah Dr. Wahyu Rizky Andhifani, M.M. (Balar Sumsel). Dalam acara pemaparan ini, juga diadakan sesi tanya-jawab antara para peserta dengan narasumber.

 

Toleransi Kehidupan Beragama

Dalam pemaparan Bambang Budi Utomo selaku narasumber dan peneliti senior Puslit Arkenas, bahwa ada pelajaran terpenting yang dapat dipetik dari Situs Percandian Bumiayu, yaitu meski ajaran yang dominan berkembang di Sumatera pada abad ke-9 sampai 13 Masehi adalah Buddha Mahayana, bukan berarti tak ada pemeluk agama lain di wilayah atau pada masa kekuasaan Sriwijaya. Di pusat kerajaan sendiri ada bukti kehadiran masyarakat penganut Hindu dengan ditemukannya arca Ganesha dan Siwa Mahadewa di Palembang. Namun masyarakat pemeluk agama Hindu tampaknya lebih memilih untuk bermukim di daerah yang lebih hulu, di sepanjang aliran Sungai Musi atau anak sungainya. Banyak buktinya, seperti Candi Lesung Batu dan temuan arca yoni di daerah Musi Rawas; atau kompleks percandian Bumiayu yang bersifat Hindu-Tantris di tepian Sungai Lematang, di Kecamatan Tanah Abang, Kabupaten PALI, Sumatera Selatan.

Kehadiran agama Hindu di tengah peradaban besar Buddhis Sriwijaya memperlihatkan toleransi kehidupan beragama. Penguasa Sriwijaya tidak mematikan perkembangan agama Hindu di wilayah kekuasaannya. Masyarakat penganut agama Hindu dan Buddha dapat hidup rukun berdampingan. Bukti toleransi itu, lagi-lagi terlihat pada arca Awalokiteswara (abad ke-8 sampai 9 Masehi) dari Binginjungut. Di punggung arca ini terdapat tulisan “dang acaryya syuta” --dang acaryya adalah gelar pendeta Hindu. Sementara Syuta, nama dari pendeta itu. Prasasti singkat ini menginformasikan tentang persembahan sebuah arca Bodhisattwa, dari seorang pendeta Hindu, kepada masyarakat pemeluk agama Buddha Mahayana.

Kegiatan Sosialisasi Rumah Peradaban Sriwijaya di Bumiayu diakhiri oleh pengguntingan pita tanda peresmian (soft launching) Gedung Koleksi Kawasan Percandian Bumiayu oleh Kepala BPCB Jambi dan Bupati Kabupaten PALI. Dalam kesempatan itu, para peserta pelajar dan mahasiswa, serta para undangan lainnya, sekaligus dapat berkeliling melihat-lihat berbagai koleksi yang dipamerkan di dalam gedung.

Semoga di masa mendatang kegiatan seperti ini, dapat diselenggarakan kembali dengan pelaksanaan yang lebih baik, demi dapat mencapai tujuan yang diharapkan (Nasruddin)